Pusat Informasi Pengadaan Barang dan Jasa Nasional

Berita dan Event Tender

Ngaku Jadi Perantara Keponakan Setnov, Pengusaha Ini Kembalikan Rp17,5 Juta ke KPK

Tuesday, 07 Aug 2018 | 16:01:29

JAKARTA – Pengusaha Ikhsan Muda Harahap mengaku pernah menjadi perantaran penyerahan uang untuk keponakan Setya Novanto, yakni Irvanto Hendra Pambudi. Selain itu, Ikhsan mengaku sudah mengembalikan uang diduga sebagian dana yang dikucurkan Irvanto senilai Rp17,5 juta ke KPK.

"Katanya mau ada temennya yang mau transfer uang ke dia (Irvanto) lewat rekening saya. Ketika uang masuk cukup besar, katanya uang dari Agung. Itu sebesar 383.040 Dollar Singapura," ungkap Ikhsan saat bersaksi untuk terdakwa Irvanto Hendra Pambudi, di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Selasa (7/8/2018).

BERITA TERKAIT +
Mantan Ketua Komisi II dan Eks Sekjen Kemendagri Bersaksi untuk Keponakan Setnov
Keponakan Setnov Didakwa sebagai Perantara Korupsi E-KTP
Eks Dirut PT Quadra Solutions Juga Divonis Bayar Uang Pengganti Rp20 Miliar
Namun, Ikhsan mengklaim tak mengetahui alasan Irvanto meminjam rekeningnya untuk menerima uang. Irvanto, tekan Ikhsan, mengaku uang tersebut merupakan bagian dari bisnisnya.

"Cuma tertulis (di resi) advise credit. Bank enggak bisa kasih tahu ke saya dari siapa. Tapi, mereka bilang ini ada orang perintah langsung untuk kirim ke rekening saya," terangnya.

Ilustrasi

Karena telah membantu Irvanto, Ikhsan mengaku sering menerima sejumlah dana yang diklaimnya sebagai uang transportasi. Namun, uang yang diterima Ikhsan dari Irvanto jumlahnya cukup besar.

"Saya enggak ada minta. Kadang dia (Irvanto-red) kasih 1.000 dollar, itu untuk ganti ongkos pesawat. Suruh ambil uang taksi," ungkapnya.

Sementara itu, ia mengaku sudah mengembalikan uang Rp17,5 juta ke KPK. "Uang Rp17,5 juta sudah saya kembalikan ke KPK," ungkap Ikhsan.

(Baca Juga : Mantan Ketua Komisi II dan Eks Sekjen Kemendagri Bersaksi untuk Keponakan Setnov)

Sekadar diketahui, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo selaku mantan Direktur PT Murakabi Sejahtera, didakwa turut serta melakukan korupsi proyek e-KTP yang merugikan keuangan negara sebesar Rp2,3 triliun. Dia didakwa bersama-sama dengan seorang pengusaha Made Oka Masagung.

Irvanto didakwa berperan menjadi perantara dalam pembagian fee proyek pengadaan barang atau jasa e-KTP tahun 2011-2013 ‎untuk sejumlah pihak. Irvanto bersama-sama dengan Made Oka juga turut serta memenangkan perusahaan tertentu dalam proyek itu.‎