Pusat Informasi Pengadaan Barang dan Jasa Nasional

Berita dan Event Tender

Pandemi Corona dan Babak Baru Dunia Riset Indonesia Yudha Maulana

Thursday, 30 Jul 2020 | 10:23:53

Bandung - Pandemi COVID-19 membuka babak baru bagi dunia riset dan pengembangan di Indonesia. Peneliti lokal didorong untuk membuat inovasi segera untuk menangani wabah, di sisi lainnya ketergantungan nasional terhadap impor harus dikurangi.
Detikcom pun berkesempatan mewawancarai Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro secara ekslusif di Kampus LIPI Bandung pada Rabu (29/7/2020), berikut petikan wawancaranya:

Dari segi inovasi seberapa siap Indonesia menghadapi pandemi?
Sebenarnya kalau melihat pengalaman kemarin dalam waktu singkat bisa dihasilkan beberapa penemuan yang intinya cukup bermanfaat untuk penanganan covid, kita punya kesiapan dan sumber dayanya, baik sumber daya manusia nya bahkan kemarin pun anggaran itu bukan issue. Ketika kita melawan pandemi. Yang saya lihat kenapa kita seolah-olah penelitian tertinggal sebelum ada pandemi ini, adalah kenapa tidak pernah ada kejelasan apa yang dibutuhkan dari mereka (peneliti).

Kendalanya di komunikasi?
Jadi komunikasi antara peneliti dan industri ini kurang terbangun. Bisa karena berbagai hal, bisa juga penelitinya kurang memperhatikan apa kebutuhan masyarakat, kebutuhan industri. Industri merasa orang Indonesia belum sanggup, sehingga kalau ada kebutuhan dia mengimpor dalam kasus covid ini kan ada dua yang penting, alat kesehatan (alkes) dan bahan baku obat. Selama ini, kenapa misalkan alkes tak pernah berkembang di Indonesia ? karena itu simply, begitu ada kebutuhan alkes langsung pemikiran pertama langsung beli impor. Sehingga peneliti dan perekayasa yang bisa bikin ventilator, X-ray tidak tertarik dia bikin. Karena kalau dia bikin, dia khawatir tidak ada yang mau memproduksi, mengingat industrinya sudah beli dari luar.

Baca juga: Vaksin Corona `Merah Putih` Buatan RI Ditarget Selesai Pertengahan 2021
Kondisinya saat pandemi ini?
Tapi karena pandemi ini, satu memang ini krisis global. Kebutuhan global pun keteteran memang harus ada suplai dari dalam negeri. Yang kedua, karena komitmen presiden yang menegaskan bahwa kalau kita bisa bikin, setop dan kurangi impor. Baru kemudian ini muncul (inovasi), jadi saya melihat di sini yang menjadi gap adalah karena antara peneliti dan industri belum nyambung, tapi dengan ada pandemi jadinya nyambung. Karena dari sisi informasi ke industrinya lebih jelas, kita butuh ventilator, kita butuh test kit dan ternyata ketika kita bisa membuat dalam waktu singkat, artinya kemampuan ada. Kesiapan SDM ada, alat menunjang sehingga akhirnya kita bisa memenuhi dan mensubstitusi yang tadi.

Apa yang bisa difasilitasi pemerintah?
Yang mau kita bangun di Kemenristek itu triple helix, kerjasama sinergi segitiga antara pemerintah, peneliti dan industri. Apa tugas kami di pemerintah ada dua, pertama sebagai regulator. Kalau pemerintah tidak melakukan pemihakan sebagai regulator, bahwa harus mengutamakan produk inovasi dalam negeri maka ya yang namanya pendatang/importir akan melakukan kegiatan seperti biasanya, sehingga tidak ada insentif bagi peneliti untuk melakukan pengembangan.

Jadi tugas kami adalah bagiamana agar peneliti dan industri saling komunikasi, tugas kami kedua adalah memfaslitiasi peneliti dengan dunia usaha. Harapan kita dunia usaha lebih ngerti orang Indonesia bisanya apa sih, mereka juga bisa ngobrol dengan peneliti `eh kamu dengan kemampuan kamu biasa buat apa buat kita?` dan peneliti bisa nanya ke industri, `apa yang sih kamu butuhkan? Apa sih yang masyarakat inginkan?` kan tidak mungkin peneliti bikin survey apa yang dibutuhkan masyarakat, enggak punya duit untuk mengetahui apa yang dibutukan masyarakat.

Yang bisa melaukan survei ya industri, dia pengen tahu bisnis apa yang bisa dikembangkan dia hired market survey apa kebutuhan masyarakat, dan itu kalau enggak ada di Indonesia dia cari di luar negeri, karena tidak ada komunikasi dia menyangka semuanya harus beli dari luar ngeri. Karena memang di kita belum ada baranngya, ini baru.

Dalam bentuk konsep, sudah ngerti tapi untuk jadi barang harus ada demand.

Bagaimana agar produk dalam negeri tidak kalah bersaing dengan impor?
Kalau ada rapid test yang enggak mungkin kita lepas ke market, tidak disuruh bersaing dengan rapid test dari luar. Kenapa? Dalam ekonomi ada namanya economy of scale. Kalau kita baru produksi 100 ribu unit perbulan, sedangkan lawan kita sudah misalnya katakan 5 juta sebulan, lihat perbedaanya cost production, seharusnya kita melihat cost per-unit dibagi cost production, tahap awal kita enggak mungkin head to head, harus ada pemerintah yang komit pengadaan sekian. Kalau sudah jelas pelan-pelan industri akan menyesuaian sehingga cost of production akan bersaing dengan luar.

Korea Selatan maju karena inovasi, jadi bukan karena industri. Industri adalah dasarnya, tapi ditambah dengan inovasi. Kita tuh belum sampai ke sana, kita baru setop di industrinya saja, sehingga keberpihakan ke dalam negeri kurang, kita ingin seperti Korea, industri atau swasta berperan dalam riset dan pengembangan, karena mereka tahu apa kebutuhan masyarakat, mereka bicara ke peneliti apa kebutuhannya.

Kenapa harus ada kemandirian?
Pertama basicnya simpel ya, Indonesia itu negara besar 267 juta penduduk dengan luas wilayah yang tersebar itu semuanya ingin sehat, artinya untukk membuat 267 orang sehat itu kan butuh obat dan alkes, otomatis ya, pertanyaannya bagaimana kita bisa memastikan ketersediaan alat dan alkes, untuk begitu banyak penduduk di begitu banyak wilayah karena tersebar-sebar tadi.

Kalau kita mengandalkan impor yang terjadi seperti sekarang, yang bisa impor ya atau yang gampang mendistribusikan impor itu daerah yang gampang diakses, sehingga terjadi kesenjangan sekarang. Kesenjangan sekarang misal alkes kalau ke RS di Bandung, Jakarta semua alat yang kamu cari dapat, tapi begitu menjauh ke luar Jawa apalagi masuk ke daerah yang ada terisolasi kita mungkin hanya dapat puskemas dengan peralatan seadanya. Tapi kalau di Jawa, bahkan ada puskesmas yang over spec, bukan level puskesmas, tapi fasilitasnya rumah sakit. Enggak perlu mendatkan alat itu, kasihan saudara kita yang tidak mendapatkan.

Kemudian kedua, untuk obat kalau kita tidak investasi di bahan baku kimianya akan selamanya impor, nah kalau kita mulai investasi kimia bisa, dengan bikin turunan indsutri petro kimia, problemnya makan waktu, mahal dan drivernya siapa? Artinya siapa yang ingin mengembangkan bahan baku kimia di Indonesia, kita punya kekayaan biodiversity, bahan baku obat dari kita, tapi obatnya dari luar. Artinya teknologi mereka memungkinkan, kenapa kemandirian itu penting karena tadi, mengurusi 267 juta orang dengan berbagai pulau yang tersebar di banyak daerah yang terpencil, kita harus punya kemandirian karena impor tidak menyelesaikan masalah, bisa meledak sisi neraca perdagangan karena impor.