Pusat Informasi Pengadaan Barang dan Jasa Nasional

Berita dan Event Tender

3 Oleh-oleh Luhut Setelah Bertemu Donald Trump di AS -Vadhia Lidyana - detikFinance

Friday, 20 Nov 2020 | 12:16:19

Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan kunjungan kerja ke Amerika Serikat (AS) sejak Selasa (17/11) lalu. Kunjungan Luhut ke AS diawali dengan menemui Presiden AS Donald Trump di Washington DC, ibu kota AS.
Ketika menemui Trump, Luhut membahas soal perpanjangan fasilitas GSP (Generalized System of Preferences dari AS. GSP adalah fasilitas perdagangan berupa pembebasan tarif bea masuk kepada negara-negara berkembang.

"Saya atas nama Presiden Joko Widodo menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Presiden Donald Trump. Apapun hasil resmi pemilu AS, pertemanan tetap perlu dijaga. Kita akan selalu menjadi kawan. Saya juga berharap komunikasi yang baik dengan Gedung Putih dapat juga terjalin setelah Januari 2021 nanti," ungkap Luhut dalam keterangan resminya, Rabu (18/11/2020).

Selain membahas GSP, Luhut juga membawa 3 oleh-oleh dari pertemuannya itu untuk Indonesia. Apa saja?

1. Rencana kerja sama Vaksin COVID-19
Setelah bertemu Trump, Luhut bertemu dengan Wakil Presiden AS Mike Pence. Dalam pertemuan itu, Luhut ditawarkan kerja sama produksi vaksin virus Corona (COVID-19) yang bisa digarap oleh perusahaan Indonesia dan AS.

2. Rencana Kerja sama teknologi pertahanan
Pada pertemuan terpisah dengan National Security Advisor (NSA), Robert O` Brien, Luhut melakukan pembahasan kemitraan strategis antara Indonesia dan Amerika Serikat di bidang pertahanan dan teknologi, serta bertukar pandangan mengenai geopolitik global.

3. Modal Rp 10,5 T Untuk pembiayaan infrastruktur dan perdagangan
Pada Rabu (18/11) kemarin, Luhut menggelar pertemuan di AS dengan Presiden EXIM Bank AS Kimberly Reed. Luhut didampingi oleh Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk AS Muhammad Lutfi.

Dalam pertemuan itu, pemerintah kedua negara langsung menandatangani Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) mengenai pendanaan infrastruktur dan perdagangan senilai US$750 juta atau sekitar Rp 10,57 triliun (kurs Rp 14.106).

Nilai pendanaan itu meningkat dari sebelumnya sebesar US$ 500 juta atau sekitar Rp 7 triliun pada tahun 2017-2018.

Kimberly mengatakan, perjanjian tersebut merupakan capaian yang signifikan guna memperkuat partisipasi AS dalam pembangunan di Indonesia pada sektor energi, infrastruktur, transportasi, teknologi informasi dan komunikasi, pelayanan kesehatan, dan lingkungan.

"MoU ini mencerminkan betapa pentingnya Indonesia bagi Pemerintah AS," ujar Kimberly dalam keterangan resmi yang diterima detikcom, Kamis (19/11/2020).

Kerja sama pendanaan ini akan memperluas peluang bagi RI dan AS untuk bekerja sama dalam pengadaan barang dan jasa untuk proyek-proyek pemerintah, juga akan mendorong peluang pengembangan usaha, antara lain di sektor infrastruktur, transportasi, energi, infrastruktur rantai pasokan pertambangan, lingkungan hidup, teknologi komunikasi dan informasi, keselamatan dan keamanan, layanan kesehatan, dan informasi geospasial.